{"id":1346,"date":"2025-07-16T13:54:27","date_gmt":"2025-07-16T06:54:27","guid":{"rendered":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/?p=1346"},"modified":"2025-07-16T13:54:27","modified_gmt":"2025-07-16T06:54:27","slug":"haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak","title":{"rendered":"Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak"},"content":{"rendered":"<p>Penanya\u00a0<strong>(Ummu Fulanah):<\/p>\n<p><\/strong><\/p>\n<blockquote><p>&#8220;Assalamu\u2019alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Ustaz selalu diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah \u2018Azza wa Jalla. Mohon nasihatnya, Ustaz. Ana sudah menikah kurang lebih 5 tahun. Ana dan suami terpaut usia yang cukup jauh. Namun kami masih sering bertengkar, dan suami sering meninggikan suara. Ana pun kadang terpancing dan membalas dengan nada tinggi, bahkan sampai terjadi di depan anak kami. Mohon nasihatnya agar kami berdua bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sabar ke depannya. Jazakallahu khairan.&#8221;<\/p><\/blockquote>\n<p><strong>Jawaban:<\/strong><\/p>\n<p>Subhanallah&#8230;<\/p>\n<p>Kita tahu, setelah atau sebelum kemerdekaan, pernikahan usia muda adalah hal biasa. Walaupun secara usia masih belia, tapi mereka sudah matang dan siap memikul tanggung jawab rumah tangga. Anak perempuan usia 13 atau 14 tahun sudah punya anak dan siap jadi ibu. Tapi sekarang, usia 20 tahun pun belum tentu siap jadi istri bahkan suami pun begitu.<\/p>\n<p>Ironisnya, sekolah bertahun-tahun ternyata tidak otomatis menjadikan seseorang dewasa. Maka, inilah yang perlu direnungkan. Dahulu, meski pendidikan formal terbatas, tapi mereka bisa menghidupkan peran keluarga dengan baik. Sekarang, banyak yang cerdas secara akademik, tapi belum tentu siap jadi suami atau istri. Kembali ke pertanyaan utama : Bicara tentang pertikaian suami istri, terlebih jika terjadi di depan anak-anak, tentu ada beberapa nasihat penting untuk suami dan istri.<\/p>\n<p>Nasihat untuk Suami:<\/p>\n<p>Engkau adalah pemimpin. Allah berfirman:<\/p>\n<p>(QS. An-Nisa: 34)<br \/>\n&#8220;Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Pemimpin harus punya visi besar, sifat sabar, dan mampu melihat kelebihan anggota keluarganya, bukan hanya kekurangannya.<\/p>\n<p>Nabi Shallallahu \u2018Alaihi Wasallam bersabda:<\/p>\n<p>&#8220;Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia membenci satu sifat darinya, maka pasti ada sifat lain yang ia sukai.&#8221; (HR. Muslim)<\/p>\n<p>Lihatlah kelebihan istrimu. Jangan hanya menyoroti kekurangannya. Marah itu seperti badai. Badai bisa merobohkan pohon, menghancurkan atap, tetapi tidak mampu membuka simpul tali dia hanya memutuskan. Begitulah amarah. Ia tidak menyelesaikan masalah, justru bisa merusak bangunan rumah tangga. Ketika ada seseorang datang kepada RasulullahShallallahu \u2018Alaihi Wasallam dan meminta nasihat, Nabi hanya mengatakan:<\/p>\n<p>&#8220;La taghdhob.&#8221;<br \/>\n&#8220;Jangan marah.&#8221; (HR. Bukhari)<\/p>\n<p>Ia mengulang permintaannya, tapi Nabi tetap menjawab hal yang sama: &#8220;Jangan marah.&#8221;<\/p>\n<p>Jika istri memancing emosi, ingat sabda Nabi \ufdfa:<\/p>\n<p>&#8220;Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam.&#8221;<br \/>\n(HR. Ahmad)<\/p>\n<p>Meninggikan suara di rumah bukanlah solusi.<\/p>\n<p>Nasihat untuk Istri:<\/p>\n<p>Ketika suami marah, diam adalah bentuk kekuatan. Katakan: &#8220;Afwan, aku minta maaf.&#8221; Meskipun dalam hati kau merasa tidak bersalah, ini bukan pengadilan. Ini rumah tangga, tempat membangun, bukan mencari siapa yang benar atau salah. Bayangkan jika tukang dan kuli bangunan saling bertengkar \u2014 bangunan tidak akan pernah selesai, bahkan bisa hancur. Maka, wahai istri, minta maaflah, walau engkau benar. Demi keutuhan rumah tangga.<\/p>\n<p>Pesan Penutup<\/p>\n<p>Nabi Shallallahu \u2018Alaihi Wasallam bersabda:<\/p>\n<p>&#8220;Aku menjamin rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia berada di pihak yang benar.&#8221;<br \/>\n(HR. Abu Dawud)<\/p>\n<p>Hormatilah suami. Sambut ia dengan baik sepulang kerja. Jangan langsung menuduh atau menginterogasi, \u201cKenapa telat? Dari mana saja?\u201d Bisa jadi, pertanyaan itu memicu amarah. Sebaliknya, sambut dengan senyum dan perhatian. Siapkan makanan atau minuman. Saling menghargai akan memadamkan api pertikaian dan menghadirkan ketenangan di dalam rumah.<\/p>\n<p>Barakallahu fikum. Semoga Allah menjaga rumah tangga kita dari pertikaian dan mengisinya dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sebaliknya, sambut dengan senyum dan perhatian. Siapkan makanan atau minuman. Saling menghargai akan memadamkan api pertikaian dan menghadirkan ketenangan di dalam rumah.<\/p>\n<p>Barakallahu fikum.<br \/>\nSemoga Allah menjaga rumah tangga kita dari pertikaian dan mengisinya dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah.<\/p>\n<p>Wallahu a\u2019lam.<\/p>\n<p>***<br \/>\nJawaban dalam bentuk video dapat anda saksikan dengan\u00a0<a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=g9FO3N_IuTs&amp;t=866s\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">klik link ini<\/a>.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penanya\u00a0(Ummu Fulanah): &#8220;Assalamu\u2019alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Ustaz selalu diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah \u2018Azza wa Jalla. Mohon nasihatnya, Ustaz. Ana sudah menikah kurang lebih 5 tahun. Ana dan suami terpaut usia yang cukup jauh. Namun kami masih sering bertengkar, dan suami sering meninggikan suara. Ana pun kadang terpancing dan membalas dengan nada tinggi, bahkan sampai terjadi di depan anak kami. Mohon nasihatnya agar kami berdua bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sabar ke depannya. Jazakallahu khairan.&#8221; Jawaban: Subhanallah&#8230; Kita tahu, setelah atau sebelum kemerdekaan, pernikahan usia muda adalah hal biasa. Walaupun secara usia masih belia, tapi mereka sudah matang dan siap memikul tanggung jawab rumah tangga. Anak perempuan usia 13 atau 14 tahun sudah punya anak dan siap jadi ibu. Tapi sekarang, usia 20 tahun pun belum tentu siap jadi istri bahkan suami pun begitu. Ironisnya, sekolah bertahun-tahun ternyata tidak otomatis menjadikan seseorang dewasa. Maka, inilah yang perlu direnungkan. Dahulu, meski pendidikan formal terbatas, tapi mereka bisa menghidupkan peran keluarga dengan baik. Sekarang, banyak yang cerdas secara akademik, tapi belum tentu siap jadi suami atau istri. Kembali ke pertanyaan utama : Bicara tentang pertikaian suami istri, terlebih jika terjadi di depan anak-anak, tentu ada beberapa nasihat penting untuk suami dan istri. Nasihat untuk Suami: Engkau adalah pemimpin. Allah berfirman: (QS. An-Nisa: 34) &#8220;Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita&#8230;&#8221; Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Pemimpin harus punya visi besar, sifat sabar, dan mampu melihat kelebihan anggota keluarganya, bukan hanya kekurangannya. Nabi Shallallahu \u2018Alaihi Wasallam bersabda: &#8220;Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia membenci satu sifat darinya, maka pasti ada sifat lain yang ia sukai.&#8221; (HR. Muslim) Lihatlah kelebihan istrimu. Jangan hanya menyoroti kekurangannya. Marah itu seperti badai. Badai bisa merobohkan pohon, menghancurkan atap, tetapi tidak mampu membuka simpul tali dia hanya memutuskan. Begitulah amarah. Ia tidak menyelesaikan masalah, justru bisa merusak bangunan rumah tangga. Ketika ada seseorang datang kepada RasulullahShallallahu \u2018Alaihi Wasallam dan meminta nasihat, Nabi hanya mengatakan: &#8220;La taghdhob.&#8221; &#8220;Jangan marah.&#8221; (HR. Bukhari) Ia mengulang permintaannya, tapi Nabi tetap menjawab hal yang sama: &#8220;Jangan marah.&#8221; Jika istri memancing emosi, ingat sabda Nabi \ufdfa: &#8220;Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam.&#8221; (HR. Ahmad) Meninggikan suara di rumah bukanlah solusi. Nasihat untuk Istri: Ketika suami marah, diam adalah bentuk kekuatan. Katakan: &#8220;Afwan, aku minta maaf.&#8221; Meskipun dalam hati kau merasa tidak bersalah, ini bukan pengadilan. Ini rumah tangga, tempat membangun, bukan mencari siapa yang benar atau salah. Bayangkan jika tukang dan kuli bangunan saling bertengkar \u2014 bangunan tidak akan pernah selesai, bahkan bisa hancur. Maka, wahai istri, minta maaflah, walau engkau benar. Demi keutuhan rumah tangga. Pesan Penutup Nabi Shallallahu \u2018Alaihi Wasallam bersabda: &#8220;Aku menjamin rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia berada di pihak yang benar.&#8221; (HR. Abu Dawud) Hormatilah suami. Sambut ia dengan baik sepulang kerja. Jangan langsung menuduh atau menginterogasi, \u201cKenapa telat? Dari mana saja?\u201d Bisa jadi, pertanyaan itu memicu amarah. Sebaliknya, sambut dengan senyum dan perhatian. Siapkan makanan atau minuman. Saling menghargai akan memadamkan api pertikaian dan menghadirkan ketenangan di dalam rumah. Barakallahu fikum. Semoga Allah menjaga rumah tangga kita dari pertikaian dan mengisinya dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sebaliknya, sambut dengan senyum dan perhatian. Siapkan makanan atau minuman. Saling menghargai akan memadamkan api pertikaian dan menghadirkan ketenangan di dalam rumah. Barakallahu fikum. Semoga Allah menjaga rumah tangga kita dari pertikaian dan mengisinya dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Wallahu a\u2019lam. *** Jawaban dalam bentuk video dapat anda saksikan dengan\u00a0klik link ini.<\/p>","protected":false},"author":16,"featured_media":1347,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-1346","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-rumah-tangga"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak - Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak - Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Penanya\u00a0(Ummu Fulanah): &#8220;Assalamu\u2019alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Ustaz selalu diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah \u2018Azza wa Jalla. Mohon nasihatnya, Ustaz. Ana sudah menikah kurang lebih 5 tahun. Ana dan suami terpaut usia yang cukup jauh. Namun kami masih sering bertengkar, dan suami sering meninggikan suara. Ana pun kadang terpancing dan membalas dengan nada tinggi, bahkan sampai terjadi di depan anak kami. Mohon nasihatnya agar kami berdua bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sabar ke depannya. Jazakallahu khairan.&#8221; Jawaban: Subhanallah&#8230; Kita tahu, setelah atau sebelum kemerdekaan, pernikahan usia muda adalah hal biasa. Walaupun secara usia masih belia, tapi mereka sudah matang dan siap memikul tanggung jawab rumah tangga. Anak perempuan usia 13 atau 14 tahun sudah punya anak dan siap jadi ibu. Tapi sekarang, usia 20 tahun pun belum tentu siap jadi istri bahkan suami pun begitu. Ironisnya, sekolah bertahun-tahun ternyata tidak otomatis menjadikan seseorang dewasa. Maka, inilah yang perlu direnungkan. Dahulu, meski pendidikan formal terbatas, tapi mereka bisa menghidupkan peran keluarga dengan baik. Sekarang, banyak yang cerdas secara akademik, tapi belum tentu siap jadi suami atau istri. Kembali ke pertanyaan utama : Bicara tentang pertikaian suami istri, terlebih jika terjadi di depan anak-anak, tentu ada beberapa nasihat penting untuk suami dan istri. Nasihat untuk Suami: Engkau adalah pemimpin. Allah berfirman: (QS. An-Nisa: 34) &#8220;Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita&#8230;&#8221; Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Pemimpin harus punya visi besar, sifat sabar, dan mampu melihat kelebihan anggota keluarganya, bukan hanya kekurangannya. Nabi Shallallahu \u2018Alaihi Wasallam bersabda: &#8220;Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia membenci satu sifat darinya, maka pasti ada sifat lain yang ia sukai.&#8221; (HR. Muslim) Lihatlah kelebihan istrimu. Jangan hanya menyoroti kekurangannya. Marah itu seperti badai. Badai bisa merobohkan pohon, menghancurkan atap, tetapi tidak mampu membuka simpul tali dia hanya memutuskan. Begitulah amarah. Ia tidak menyelesaikan masalah, justru bisa merusak bangunan rumah tangga. Ketika ada seseorang datang kepada RasulullahShallallahu \u2018Alaihi Wasallam dan meminta nasihat, Nabi hanya mengatakan: &#8220;La taghdhob.&#8221; &#8220;Jangan marah.&#8221; (HR. Bukhari) Ia mengulang permintaannya, tapi Nabi tetap menjawab hal yang sama: &#8220;Jangan marah.&#8221; Jika istri memancing emosi, ingat sabda Nabi \ufdfa: &#8220;Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam.&#8221; (HR. Ahmad) Meninggikan suara di rumah bukanlah solusi. Nasihat untuk Istri: Ketika suami marah, diam adalah bentuk kekuatan. Katakan: &#8220;Afwan, aku minta maaf.&#8221; Meskipun dalam hati kau merasa tidak bersalah, ini bukan pengadilan. Ini rumah tangga, tempat membangun, bukan mencari siapa yang benar atau salah. Bayangkan jika tukang dan kuli bangunan saling bertengkar \u2014 bangunan tidak akan pernah selesai, bahkan bisa hancur. Maka, wahai istri, minta maaflah, walau engkau benar. Demi keutuhan rumah tangga. Pesan Penutup Nabi Shallallahu \u2018Alaihi Wasallam bersabda: &#8220;Aku menjamin rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia berada di pihak yang benar.&#8221; (HR. Abu Dawud) Hormatilah suami. Sambut ia dengan baik sepulang kerja. Jangan langsung menuduh atau menginterogasi, \u201cKenapa telat? Dari mana saja?\u201d Bisa jadi, pertanyaan itu memicu amarah. Sebaliknya, sambut dengan senyum dan perhatian. Siapkan makanan atau minuman. Saling menghargai akan memadamkan api pertikaian dan menghadirkan ketenangan di dalam rumah. Barakallahu fikum. Semoga Allah menjaga rumah tangga kita dari pertikaian dan mengisinya dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sebaliknya, sambut dengan senyum dan perhatian. Siapkan makanan atau minuman. Saling menghargai akan memadamkan api pertikaian dan menghadirkan ketenangan di dalam rumah. Barakallahu fikum. Semoga Allah menjaga rumah tangga kita dari pertikaian dan mengisinya dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Wallahu a\u2019lam. *** Jawaban dalam bentuk video dapat anda saksikan dengan\u00a0klik link ini.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/www.facebook.com\/DewanFatwaPA\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-16T06:54:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/pexels-freestocks-987585.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"850\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"850\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak\"},\"author\":{\"name\":\"Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d41820c02567546c73eabf0152541c46\"},\"headline\":\"Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak\",\"datePublished\":\"2025-07-16T06:54:27+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak\"},\"wordCount\":582,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/pexels-freestocks-987585.png\",\"articleSection\":[\"Rumah Tangga\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak\",\"name\":\"Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak - Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/pexels-freestocks-987585.png\",\"datePublished\":\"2025-07-16T06:54:27+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/pexels-freestocks-987585.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/pexels-freestocks-987585.png\",\"width\":850,\"height\":850},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/\",\"name\":\"Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad\",\"description\":\"Website Resmi Dewan Fatwa\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/#organization\",\"name\":\"Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/logodfpa-w.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/logodfpa-w.png\",\"width\":3085,\"height\":581,\"caption\":\"Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.facebook.com\\\/DewanFatwaPA\",\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/dewanfatwapa\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d41820c02567546c73eabf0152541c46\",\"name\":\"Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/Ustadz-Syafiq-2-150x150.webp\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/Ustadz-Syafiq-2-150x150.webp\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/Ustadz-Syafiq-2-150x150.webp\",\"caption\":\"Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.dewanfatwa.com\\\/en\\\/author\\\/srb\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak - Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak - Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad","og_description":"Penanya\u00a0(Ummu Fulanah): &#8220;Assalamu\u2019alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Ustaz selalu diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah \u2018Azza wa Jalla. Mohon nasihatnya, Ustaz. Ana sudah menikah kurang lebih 5 tahun. Ana dan suami terpaut usia yang cukup jauh. Namun kami masih sering bertengkar, dan suami sering meninggikan suara. Ana pun kadang terpancing dan membalas dengan nada tinggi, bahkan sampai terjadi di depan anak kami. Mohon nasihatnya agar kami berdua bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih sabar ke depannya. Jazakallahu khairan.&#8221; Jawaban: Subhanallah&#8230; Kita tahu, setelah atau sebelum kemerdekaan, pernikahan usia muda adalah hal biasa. Walaupun secara usia masih belia, tapi mereka sudah matang dan siap memikul tanggung jawab rumah tangga. Anak perempuan usia 13 atau 14 tahun sudah punya anak dan siap jadi ibu. Tapi sekarang, usia 20 tahun pun belum tentu siap jadi istri bahkan suami pun begitu. Ironisnya, sekolah bertahun-tahun ternyata tidak otomatis menjadikan seseorang dewasa. Maka, inilah yang perlu direnungkan. Dahulu, meski pendidikan formal terbatas, tapi mereka bisa menghidupkan peran keluarga dengan baik. Sekarang, banyak yang cerdas secara akademik, tapi belum tentu siap jadi suami atau istri. Kembali ke pertanyaan utama : Bicara tentang pertikaian suami istri, terlebih jika terjadi di depan anak-anak, tentu ada beberapa nasihat penting untuk suami dan istri. Nasihat untuk Suami: Engkau adalah pemimpin. Allah berfirman: (QS. An-Nisa: 34) &#8220;Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita&#8230;&#8221; Menjadi pemimpin itu tidak mudah. Pemimpin harus punya visi besar, sifat sabar, dan mampu melihat kelebihan anggota keluarganya, bukan hanya kekurangannya. Nabi Shallallahu \u2018Alaihi Wasallam bersabda: &#8220;Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia membenci satu sifat darinya, maka pasti ada sifat lain yang ia sukai.&#8221; (HR. Muslim) Lihatlah kelebihan istrimu. Jangan hanya menyoroti kekurangannya. Marah itu seperti badai. Badai bisa merobohkan pohon, menghancurkan atap, tetapi tidak mampu membuka simpul tali dia hanya memutuskan. Begitulah amarah. Ia tidak menyelesaikan masalah, justru bisa merusak bangunan rumah tangga. Ketika ada seseorang datang kepada RasulullahShallallahu \u2018Alaihi Wasallam dan meminta nasihat, Nabi hanya mengatakan: &#8220;La taghdhob.&#8221; &#8220;Jangan marah.&#8221; (HR. Bukhari) Ia mengulang permintaannya, tapi Nabi tetap menjawab hal yang sama: &#8220;Jangan marah.&#8221; Jika istri memancing emosi, ingat sabda Nabi \ufdfa: &#8220;Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam.&#8221; (HR. Ahmad) Meninggikan suara di rumah bukanlah solusi. Nasihat untuk Istri: Ketika suami marah, diam adalah bentuk kekuatan. Katakan: &#8220;Afwan, aku minta maaf.&#8221; Meskipun dalam hati kau merasa tidak bersalah, ini bukan pengadilan. Ini rumah tangga, tempat membangun, bukan mencari siapa yang benar atau salah. Bayangkan jika tukang dan kuli bangunan saling bertengkar \u2014 bangunan tidak akan pernah selesai, bahkan bisa hancur. Maka, wahai istri, minta maaflah, walau engkau benar. Demi keutuhan rumah tangga. Pesan Penutup Nabi Shallallahu \u2018Alaihi Wasallam bersabda: &#8220;Aku menjamin rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meskipun dia berada di pihak yang benar.&#8221; (HR. Abu Dawud) Hormatilah suami. Sambut ia dengan baik sepulang kerja. Jangan langsung menuduh atau menginterogasi, \u201cKenapa telat? Dari mana saja?\u201d Bisa jadi, pertanyaan itu memicu amarah. Sebaliknya, sambut dengan senyum dan perhatian. Siapkan makanan atau minuman. Saling menghargai akan memadamkan api pertikaian dan menghadirkan ketenangan di dalam rumah. Barakallahu fikum. Semoga Allah menjaga rumah tangga kita dari pertikaian dan mengisinya dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sebaliknya, sambut dengan senyum dan perhatian. Siapkan makanan atau minuman. Saling menghargai akan memadamkan api pertikaian dan menghadirkan ketenangan di dalam rumah. Barakallahu fikum. Semoga Allah menjaga rumah tangga kita dari pertikaian dan mengisinya dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Wallahu a\u2019lam. *** Jawaban dalam bentuk video dapat anda saksikan dengan\u00a0klik link ini.","og_url":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak\/","og_site_name":"Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad","article_publisher":"https:\/\/www.facebook.com\/DewanFatwaPA","article_published_time":"2025-07-16T06:54:27+00:00","og_image":[{"width":850,"height":850,"url":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/pexels-freestocks-987585.png","type":"image\/png"}],"author":"Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak"},"author":{"name":"Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA","@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/#\/schema\/person\/d41820c02567546c73eabf0152541c46"},"headline":"Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak","datePublished":"2025-07-16T06:54:27+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak"},"wordCount":582,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/pexels-freestocks-987585.png","articleSection":["Rumah Tangga"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak","url":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak","name":"Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak - Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/pexels-freestocks-987585.png","datePublished":"2025-07-16T06:54:27+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#primaryimage","url":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/pexels-freestocks-987585.png","contentUrl":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/pexels-freestocks-987585.png","width":850,"height":850},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/haruskah-diam-atau-melawan-saat-pertengkaran-terjadi-di-depan-anak#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Haruskah Diam Atau Melawan? Saat Pertengkaran Terjadi di Depan Anak"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/#website","url":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/","name":"Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad","description":"Website Resmi Dewan Fatwa","publisher":{"@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/#organization","name":"Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad","url":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/logodfpa-w.png","contentUrl":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/logodfpa-w.png","width":3085,"height":581,"caption":"Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad"},"image":{"@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.facebook.com\/DewanFatwaPA","https:\/\/www.instagram.com\/dewanfatwapa\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/#\/schema\/person\/d41820c02567546c73eabf0152541c46","name":"Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Ustadz-Syafiq-2-150x150.webp","url":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Ustadz-Syafiq-2-150x150.webp","contentUrl":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/Ustadz-Syafiq-2-150x150.webp","caption":"Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah,MA"},"url":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/author\/srb"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1346","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1346"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1346\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1348,"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1346\/revisions\/1348"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1347"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1346"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1346"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.dewanfatwa.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1346"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}